Kadang setiap raga adalah serpihan rasa
Yang harus dijaga demi nama bangsa yang kian berderai agar tetap ada hingga akhir masa.
Atas jasamu aku bersyukur untuk memuja pada dikau yang telah tiada atas nama cinta karna berjuang demi nama bangsa serta negara.
Dari pulau yang disebut Sabang sampai ditimur sana yang disebut Merauke, nama-mu sekarang dipuja-puja oleh anak bangsa.
Rasa yang ada dalam berbela negara adalah ujud cinta serta bukti jati diri atas merah dan atas putih yang telah kau buktikan sampai Indonesia terpapang berdiri dibumi Pertiwi yang elok dan permai.
Aku menyebut-mu adalah merah karena berani dan putih karena suci.
Jasamu besar atas nama rasa yang dibalut derita dengan jiwa yang terbakar yang atas nama raga yang terakar dalam derajat Tanah bangsa.
Menyala nama-mu ku kenang dalam lagu himne dalam belas kasih yang begitu indah dan permai.
(Nano)
🙌🥀
II. Pulang
Paling lama terbang di angan
Hiruk pikuknya membekas di nadi.
Jalannya terjal terhalang impian,
Jauh menelusuri rimba cita-cita.
Matahari terbit di timur dan terbenam di barat sepanjang waktu. Sementara pulang ada ditengah-tengahnya.
Pulang;
Pergi yang kembali dengan jarang.
Ingatan yang terkubur di jalannya.
Pulang tak pernah tau kapan ia tersenyum.
III. Bungan
Pekikan pasi diiringi pukulan gendang dan gong menghiasi langitnya.
Lalong-lalong menari ria dibawah syahdunya Golo Mbengan.
Di atas bukit yang sakral
Penuh kisah dan filosofi hidup,
Nada-nada nostalgia dihidupkan.
Semakin tinggi pendakian sang raja langit, tanah pun memanas dan memerah.
Keringat menetes bercucuran bercampur darah menghujam bumi. Pekikan pasi dan danding menggema di angkasa.
Lalong-lalong itu masih perkasa. Sedang sekelilingnya ratusan mata menatap indah kekar tubuhnya.
Sang raja langit turun dari singgasananya. Redup seluruh bumi.
Pekikan pun perlahan hilang.
Damai nan syahdu si bukit sakral.
Lalong-lalong mengecek garis merah dipunggungnya.
(Mimin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar