(Potret Mbaru Mbo tampak depan)
Kedaluan Kepo terletak di kampung Mok, desa Mbengan, kecamatan Kota Komba, kabupaten Manggarai Timur. Kedaluan ini memiliki wilayah yang sangat kecil. Konon Mok merupakan Markas Orang Kepo. Kampung Mok terletak di punggung golo Mbengan yang diapiti wilayah desa Ranakolong, desa Pong Ruan dan desa Golo Tolang.
Kampung Mok merupakan salah satu kampung Budaya di kabupaten Manggarai Timur. Ada begitu banyak peninggalan kebudayaan yang tetap dilestarikan di Mok, misalnya tarian Wai Doka, tarian Rawa, tarian Caci, alat musik dan keberadaan rumah adat yang tetap dijaga keunikannya, serta banyaknya suku atau clan yang hidup berdampingan di Mok.
Dari sekian banyak rumah adat yang masih dijaga di Mok, Mbaru Mbo merupakan salah satu peninggalan nenek moyang yang sangat unik dan khas. Mbaru Mbo berasal dari dua kata dalam bahasa Kepo yakni Mbaru dan Mbo. Mbaru berarti rumah, sedangkan Mbo berarti nenek moyang atau leluhur. Sehingga Mbaru Mbo berarti rumah leluhur. Mbaru Mbo merupakan rumah adat milik suku Nanga. Mbaru Mbo tepatnya berada di kampung Sembong, anak kampung Mok.
Mbaru Mbo memiliki keunikan dan ciri khas yang tetap dijaga oleh anggota suku Nanga hingga saat ini. Bentuk atau model rumahnya masih sama seperti rumah adat lainnya di Manggarai. Rumah panggung yang beratapkan Wunut(ijuk), dinding dan alas dari bambu serta ditopang banyak tiang kayu yang kuat.
Mbaru Mbo menjadi tempat acara adat suku Nanga. Ada beberapa acara yang digelar di Mbaru Mbo yakni; soso uwi, ghan weton dan lain-lain seperti pada acara ada masyarakat Manggarai pada umumnya.
Mbaru Mbo menjadi daya tarik tersendiri untuk semua orang yang pergi ke Mok. Konon Mbaru Mbo memiliki daya mistis yang kuat dan ketika melawan atau tidak mengikuti aturannya, nyawa bisa jadi taruhannya. Selain itu Mbaru Mbo juga tetap mempertahankan keaslian leluhur pada zaman dahulu. Mbaru Mbo menolak beberapa perkembangan teknologi zaman ini. Hal ini dilakukan untuk tetap menjaga keasliannya. Dibawa ini penulis mencoba merangkum beberapa larangan ketika masuk ke Mbaru Mbo.
1. Penggunaan korek api untuk menyalakan api di dalam Mbaru Mbo sangat dilarang. Hal ini sudah menjadi larangan turun temurun suku Nanga. Api dinyalakan menggunakan arang menyala yang dibawa dari rumah anggota suku.
2. Penggunaan cahaya selain api dalam hal ini mencakup senter, hp, listrik juga dilarang. Ketika acara yang diselenggarakan malam hari, Mbaru Mbo begitu mencekam. Penerangan dalam ruangan hanya menggunakan api unggun ditengah Mbaru Mbo. Dapat dibayangkan gelap dan panasnya.
3. Ketika masuk ke Mbaru Mbo, dilarang menggunakan pakaian yang berwarna merah. Jadi sebelum ke Mbaru Mbo, wajib mengecek pakaian. Sehingga tidak terjadi kesalahan.
4. Parfum dan segala macam jenis wewangian sangat dilarang keras digunakan.
5. Penggunaan kamera dilarang di dalam Mbaru Mbo. Diceritakan oleh tua adat suku Nanga, dulu almarhum Mgr. Wilhelmus Van Bekkum SVD pernah mengunjungi kampung Mok dan sempat masuk ke Mbaru Mbo. Kalah itu mgr. Van Bekkum pernah mengambil gambar di dalam Mbaru Mbo. Alih-alih mendapatkan gambar yang bagus, uskup asal Belanda ini hanya mendapatkan potret gelap gulita dan kameranya sempat rusak selama di dalam Mbaru Mbo.
Larangan-larangan ini sudah dijaga ketat bertahun-tahun. Sehingga ketika masuk ke Mbaru Mbo sama seperti masuk ke zaman dahulu kalah. Hal ini juga menjadi keunikan Mbaru Mbo yang tidak dimiliki rumah adat lain di Manggarai.
Mbaru Mbo merupakan sebuah warisan budaya yang sangat penting dan harus dilestarikan. Zaman boleh berubah tetapi mbaru Mbo harus tetap eksis dengan segala kekhasannya.
Harapannya Mbaru Mbo bisa menjadi destinasi wisata budaya di Mbengan. Hal ini tentu didorong oleh pengelolaan pariwisata yang baik dari pihak terkait. Hemat saya, Mbaru Mbo bisa menjadi satu kelebihan yang menguntungkan masyarakat desa Mbengan terutama masyarakat suku Nanga.
Tabe❤️
Tidak ada komentar:
Posting Komentar