Rabu, 05 Oktober 2022

Merdeka dengan Sopi Kobok

Tenda Gereng 17 Agustus 2021, matahari begitu panasnya menusuk kulit. Tidak ada yang spesial disini. Hanya ada kumpulan tiga sampai lima orang di depan rumah bapak Paskalis. Mereka adalah pemuda gagal yang mengambang tanpa kejelasan. Teger membuat bosan saja. Semua orang hanya menunggu jam 15:00 untuk bermain volly di lapangan seberang rumah Bapak Romanus. Teger, atau kubakar saja kalian celetuk putra bapak Andreas. 

Tiba-tiba dari kejauhan seorang laki-laki mengendarai sepeda motor menghampiri kumpulan pemuda tadi. Raut mukanya begitu serius. Ditangan kirinya ada helm seperti kepala kuda. Sedang tangan kanannya merengkuh sebotol bir dengan wangi menusuk jantung.  Tidak salah lagi kalau itu sopi Kobok yang maha keras itu. 
Tanpa basa basi dan aba-aba,putra kedua bapak Paskalis mulai menuangkan isi botol bir itu kedalam sloki kecil yang cantik dan seksi. Dua puluh menit berlalu begitu cepatnya. Botol bir tadi sudah tumbang tanda isinya telah terkuras habis. Nampak putra bapak paskalis dan bapak Andreas mulai menari diiringi musik Jai Bajawa. Sedang putra bapak Boni masih saja berkutat dengan hpnya.  Ada tiga pemuda yang masih berbincang tentang masa depan. Mereka putra bapak Geradus dan putra bapak Pius. 
Peringatan kemerdekaan tahun ini tidak begitu meriah. Kalau tahun lalu ada perlombaan, sekarang ide tersebut seperti tenggelam ditelan bumi. Sekarang kita rayakan kemerdekaan ini dengan meneguk sebotol kobok. 
Sementara pemuda-pemuda tadi asik bercerita dan berjoget, datanglah bapak sipri alias Rema ditemani pemuda yang membawa sebotol kobok tadi. Sekarang di tangan kiri dan kananya masing-masing memegang botol bir. Semuanya kaget bukan kepalang. Siapa sebenarnya pemuda yang gagah berani ini. Tidak ada pemuda sehebat dia di Teger. Tak ada satupun sejak dahulu pemuda Teger yang berani membeli tiga botol kobok tanpa patungan. Oke saya akan ceritakan secara runut. 
Dua puluh tahun yang lalu dia telah ada di bumi Teger yang tercinta ini. Dia lahir sebagai putra sulung. 
Bapak dan mamaknya menginginkan dia kelak menjadi sosok pemberani. Dia bersekolah di sekolah tua, SDK Mok yang tercinta itu. Disana dia terkenal sebagai sosok yang tak pernah kenal takut. Siapapun dia akan lawan. Entah di posisi yang benar atau salah. Dia terkenal keras kepala. Pernah satu kali dia mengejar teman-temannya dengan parang ditangan kanannya. 
Masa SD dan SMP dilaluinya di Mok. Katanya, ini priode yang sangat membosankan sekitar 75 persen dan sisanya sangat menyenangkan. Siapa yang tidak kecewa dengan masa ini. Sepulang sekolah ke kebun. Pikul kemiri atau coklat juga cengkeh. Begitupun waktu libur. Tak ada yang spesial disini. 
Akhirnya, atas persetujuan bapak dan mamaknya. Pemuda tampan nan rupawan idaman perempuan ini melanjutkan pendidikan SMA di kota dingin Bajawa. Sampai disini ada yang mulai menebak siapa pemuda ini?
Di bajawa, dia semakin liar saja. Bajawa membuat dia gila. Dingin yang bajawa berikan untuk dirinya membuat dia semakin keras kepala dan tak pernah kenal takut. Pernah satu kali dia pulang kampung dari Bajawa mengendarai sepeda motor Mio dengan minus rem. Dapat dibayangkan bagaimana dia melalui tikungan tajam bajawa aimere yang terkenal ganas itu. 
Dia bersekolah di SMK Sanjaya. Katanya cewek-cewek disana aduhai sekali. Pantasan pemuda ini betah dan liar disana. 
Berapa bulan yang lalu dia menyelesaikan pendidikannya disana. 
Sekarang pemuda ini telah bekerja di Borong. Kota kabupaten Manggarai Timur. Setiap hari sabtu dia pasti pulang kampung. Kadang kalau bertemu teman-temannya dia tak pernah lupa menenteng sekantong kue kacang untuk mereka. 
Ya, tanpa basa basi lagi. Dia Nandik Fermino. Putra sulung Bapak Adi yang baik hati itu. 
Sekarang kamu tidak perlu penasaran lagi dengan pemuda tajir yang membeli tiga botol Sopi kobok di 17 Agustus kali ini. 
Pukul 15:00, Teger kembali hidup. Semua orang berkumpul di lapangan volly. Pemuda-pemuda tadi dengan sempoyongan ikut menyaksikan pertandingan disana.  Anak bapak Andreas yang terkenal jago itu sudah muntah berkali-kali.  Sedangkan anak bapak Iyan dan putra sulung Bapak lensi yang datang belakangan terus menyanyikan lagu nenggo sepanjang sore itu. 
Ya, Trimaksih Sopi kobok( nandik). Setidaknya sekarang kami tahu merdeka itu seperti apa.

 (Tulisan ini diekstrak kembali dari diary kecil Sobat 21)