Aku tak pernah melupakan saat pertama kali kau masuk dalam kepalaku.
Rona merah di pipimu meletup-letup diingatanku.
Wajah polosmu berputar bak ban sepeda motorku.
Kau terlalu sulit bagiku untuk keluar dari kepalaku.
Kau menghipnotis segala ragaku.
Facebook yang dulu hanya mengandalkan mode gratis. Sekarang harus beradaptasi. Kuota harus diisi. Semuanya untukmu kekasih hati.
Malam yang dulu hanya dipenuhi celotehan teman-teman, sekarang menjadi ladang asmara. Ya, malamku sejenak menjadi perbincangan di layar Android yang tak habis-habisnya. Celotehanmu menjadikan hal kecil menjadi sesuatu yang menarik.
Tugas sekolah yang dulu menghiasi dunia malam, sekarang menjelma puisi dan sajak-sajak senja.
Jatuh cinta harus seperti itu. Logika harus tunduk pada rasa.
Ketahuilah, sebelum mencintaimu tak ada cinta semanis ini dan tak ada rindu sepahit ini. Kata ayahmu Kita adalah dua orang yang terlanjur berkubang dalam zona percintaan. Aku telah menjadi matahari untuk siangmu, jadi jalan untuk kakimu dan menjadi air untuk dahagamu.
Kau tau, dimana dan kapanpun aku tetap orang yang sama. Mencintaimu dengan sederhana, merindukanmu dengan jujur dan melukaimu dengan tak mungkin.
Apakah tangis masih menaungi matamu?
Apakah tidur masih menjadi hobbymu?
Apakah aku masih menghiasi memorimu?
Kurang ajarkah aku apabila aku merindukanmu dengan lebih?
Aku harap kau masih baik-baik saja.
Aku harap kau mengerti setiap kode yang kusematkan dichatan kita.
Jangan risau tentang diriku.
Aku sudah terlalu biasa menggenggam duri-duri mawar.
Aku sudah terlalu biasa untuk berpura-pura tersenyum.
Kemarin kau menangis dengan deras.
Aku tak sampai hati melihatmu.
Tugasku adalah membahagiakanmu.
Bukan membuatmu bercucuran air mata.
Sejenak aku dilematis. Kau benar-benar magnet yang menahanku, walau akhirnya kau kalah oleh realita.
Jumat 17 Juni, aku sudah berjarak ratusan kilometer darimu. Saat ini cakrawala di tempatku pelan-pelan berjingkrak-jingkrak menuju ujung horizon. Kau tau, ini menambah tebal rinduku.
Romantisme alam ini sungguh indah. Cakrawala mencium horizon lalu memuncratkan spektrum warna ke penjuru bumi.
Ya, seperti senja kau tercipta ketika Tuhan sedang bergembira. Dan aku menyukainya.
Watu manuk 17 Juni 2022
(Teruntuk Carly Jansen; kole kaler alias joak-joak)