Teger begitu sepi. Tak ada lagi bunyi musik Gegalino dari Karitas atau barangkali speaker dari om Amor. Teger sepertinya tidur lebih awal kali ini. Billyard yang dulu ramai dikepung pecandunya sekarang diam membisu. Tak ada yg menemani siang atau malam.
Pukul 21:00, Akhirnya semua berkumpul di rumah Ridy. Syukurlah harapan dan cita-cita terkabul juga. Diatas meja sudah tersedia kopi manis plus kacang garuda. Anak bos memang bukan kaleng-kaleng.
Btw, ternyata Ridy sedang sakit. Badannya terlihat kurusan. Kemarin sore dia dijemput ayahnya dari sekolahnya, di Mbata yang mahabanyak gadis-gadisnya.
Ceritanya, sekarang edisi jenguk sahabat. Cepat sembuh kawan.
Sepanjang malam rumah begitu ramai dipenuhi celotehan teman-teman. Maafkan kami Opa Oma dan Bapa Mama di rumah ini. Mance Kewor yang kekar itu menguasai meja perbincangan. Ceritanya menarik. Katanya dia terkenal di kemah pesta, seterkenal Cristiano Ronaldo di lapangan hijauh. Ah sudahlah membualnya Kewor. Kami tau kau pernah disiksa preman di Peot.
Anak muda suka kebebasan. Untuk itu, ide terbaik kali ini adalah kemping di Pantai. Tanjung bendera tepatnya. Segala macam hal dipersiapkan. Tenda adalah tanggung jawab Carly Jansen. Kayu bakar tanggung jawab Kewor. Makanan ditanggung Renal dan Nandik . Orin dan Rian sebagai tenaga kole kaler. Sedangkan beras ditanggung setiap individu. Setengah kilogram perorang.
Tepat pukul 15:00, 30 Juli 2021 rombongan sepeda motor beriringan menuju pantai. Ada Kewor bersama Opyan dengan Supra andalannya. Renal dan Nandik, mengendarai Yamaha R-15 yang maha cantik itu. Carly Jansen memboncengi Ando dengan motor smash antiknya. Sedangkan Rian Tasman sebagai otak dari perjalanan ini mengendarai Blade kesayanganya.
Bermotoran ke pantai memang terasa menyenangkan. Selama perjalanan, pasti ada ajang balap-balapan. Untuk hal ini, Yamaha milik Renal jagonya. Untuk freestyle di jalanan, tak perlu ragukan kemampuan Ando dan Mance Kewor. Jangan tanyakan tentang blade miliknya Rian. Motor itu sangat alim, sealim pemiliknya.
Perhentian pertama adalah di pasar waelengga. Membeli ikan tentunya. Biar nanti bisa jadi lauk malam hari. "Mengapa tidak memancing saja?" ujar Kewor di senja itu. Pertanyaan itu tak perlu dijawab. "Kita anak gunung, tanpa alat mancing. Kau mau mancing pake gigi" balas Ando diikuti gelak tawa teman-teman.
Hari sudah semakin sore. Matahari sudah berada di ujung horizon. Rombongan itu belum juga sampai pantai. Kamu tau kenapa. Itu karena misskomunikasi diantara mereka. Maklum saja, semuanya masih miskin pengalaman soal kemping.
Kemping dipantai tak semudah yang dibayangkan. Pantai tak selamanya menyediakan tempat yang nyaman untukmu. Mencari tempat yang terbaik untuk membangun kemah adalah hal yang sulit. Selain harus tak dijangkau air laut saat pasang, kemah juga harus ditempat yang sentral.
Tanjung Bendera. Sekarang keinginan untuk tidur diatas pasirnya yang gembur tercapai juga. Kemping yang sederhana ini dimulai. Pertama membangun tenda dan dilanjutkan membakar nasi bambu. Kerja sama tim sangat diperlukan. Ada Kewor yang setia dengan kayu bakarnya. Renal yang meracik bumbu untuk bakar-bakar. Atau Nandik Fermino yang tidak jelas mau buat apa, maklum dia bos dalam perjalanan ini. Juga ada Ando yang memainkan gitar menghibur Jansen yang menggalau di atas pohon. Atau Rian yang setia memanggang nasi bambu.
Malam berjalan begitu cepat. Mungkin karena semuanya merindukan pagi atau matahari terbit. Ya, pukul 4 pagi semuanya bangun menyaksikan indahnya panorama alam di selatan Manggarai Timur itu.
Tanjung Bendera, kepingan taman firdaus yang jatuh di selatan Manggarai Timur. Semoga kau tetap perawan.
Seperti anak gunung lainnya, kalau ke pantai pasti mencoba mencicipi asinya air laut, dengan berenang tentunya. Tujuh anak kampung ini akhirnya memberanikan diri melawan ombak Tanjung Bendera.
Pukul 15:00 semuanya sepakat untuk kembali. Satu kejadian yang paling berkesan selama di Tanjung Bendera adalah ketika Jansen menebang sebuah pohon liar di tepi pantai dan kemudian dimarahi orang tua disana untuk tidak sembarangan menebang kayu di pantai. Kejadian ini mengingatkan saya pada Bung Fiersa Besari" jangan ambil apapun kecuali foto, jangan tinggalkan apapun kecuali jejak, jangan bunuh apapun kecuali waktu"
Terimaksih man teman.