Membahas kampung Mok tidak pernah ada habis-habisnya. Begitu banyak hal menarik nan unik di sana. Mok berstatus kampung tua. Berada di punggung bukit yang menyisahkan banyak keunikan mulai dari suku,bahasa, adat istiadat serta permainan-permainan tradisional.
Sejak dahulu, kampung Mok sudah diistimewakan. Mulai dari pemberian dalu yakni dalu Kepo, pembangunan sekolah, gereja dan infrastruktur lainnya. Kampung Mok begitu istimewa.
Mok memiliki daya magnet tersendiri untuk dikunjungi. Mok layak disebut kampung pendidikan. Disana ada TK, SD, SMP dan SMA. Mok juga merupakan pusat pemerintahan desa Mbengan. Puskesmas dengan fasilitas memadai juga dibangun di Mok. Terakhir, Mok ialah pusat dari paroki besar St. Agustinus.
Kadang orang iseng bertanya dalam hati, daya magis apa yang membuat Mok menjadi pusat segalanya.
Satu hadiah yang wajib disyukuri oleh masyarakat Mok ialah berdirinya SMA negeri 2 Kota Komba. Lagi-lagi ini merupakan sebuah keistimewaan. Sebuah kampung diatas gunung. Jauh dari pusat keramaian. Tetapi dihadiahkan sebuah sebuah sekolah yang luar biasa. SMAN 2 atau Smandu merupakan puncak dari rasa pedulinya pemerintah akan pendidikan di daerah terpencil.
Sejak berdirinya di tahun 2010 Smandu mendatangkan banyak orang di Mok. Tentu saja mereka adalah anak muda yang ingin mengenyam pendidikan di Smandu.
Kehadiran Smandu memberi keuntungan besar bagi masyarakat Mok dan sekitarnya. Untuk kaum pelajar, ini adalah anugerah Tuhan agar mereka tidak lagi jauh ke kota untuk bersekolah. Smandu menjadi lapangan kerja baru bagi kaum terdidik di Mok dan sekitarnya. Menjadi tenaga pendidik tentunya. Sedangkan selebihnya, ini merupakan momentum masyarakat sekitar untuk menggerakkan sedikit roda perekonomiannya. Mendirikan kios dan usaha lainnya. Yang paling menjanjikan adalah mendirikan asrama atau penginapan untuk pelajar.
Asrama merupakan hal yang lumrah ada di Mok. Ada begitu banyak asrama dibangun untuk menampung pelajar-pelajar dari berbagai daerah disekitar Mok.
Medio 2010 sampai 2015 merupakan puncak ramainya kampung Mok. Ada begitu banyak asrama berjejer. Mulai dari Tenda Gereng, wae galang, wae rae, Pusat Paroki dan tempat lain yang luput dari perhatian penulis kalah itu. Munculnya banyak asrama ini merupakan tuntutan dari adanya Smandu. Efek Smandu sedikit menambah gemerincing koin di kantong pemilik asrama kalah itu. Selain daya magis kampung Mok sendiri, Smandu juga menjadi magnet ajaib yang menarik banyak orang ke Mok. Masyarakat Mok wajib berbangga dengan adanya Smandu.
Kalah itu Mok menjadi destinasi yang sangat menarik dikunjungi. Saban hari kita akan menjumpai para remaja dengan hp Mito, Nokia dan merek-merek lainnya di pinggir jalan atau bangku panjang di depan asrama. Tidak lupa pula ada beberapa remaja sedang menenteng air atau kayu bakar di bahu.
Pagi hari jalanan dipenuhi siswa dengan body tinggi gagah, juga siswi cantik aduhai dengan make up andalan bedak Viva.
Pada sore hari, lapangan sepak bola ramai dipenuhi siswa Smandu. Tak heran, prestasi sepak bolanya sangat mentereng. Beberapa kali penulis hadir ketika Smandu Fc bertanding seperti Waelengga, Wano, Mesi dan juga masih banyak lagi atau ketika latihan sore di Ketang dan Waekekik.
Kembali ke topik kita yakni asrama-asrama di Mok. Eksistensi asrama ini sangat membantu para siswa yang berasal dari kampung yang notabene jauh dari Smandu. Dengan biaya tiga puluh ribu atau lebih, siswa dengan nyaman tinggal di asrama.
Lahirnya banyak asrama di Mok tidak terlepas dari banyaknya pelajar yang bersekolah di Smandu. Mereka datang dari berbagai penjuru di kecamatan Kota-komba.
Pengalaman tinggal di asrama merupakan hal yang sangat spesial. "kamu tidak akan pernah tahu licinnya Par Tagi atau derasnya wae Nggereng ketika cari kayu bakar" Ujar PS, alumni Smandu 2014. Selain itu ada momen ketika penghuni asrama harus mandi di sungai. Wae Nggereng, wae Rae dan sungai lainnya akan ramai dipenuhi penghuni asrama di pagi atau sore hari.
Sebelum masuknya PLN di Mok, asrama-asrama ini menggunakan generator untuk menerangi malam hari. Sehingga ketika jarum jam menunjukkan pukul enam sore, asrama-asrama ini akan diramaikan oleh bunyi generator yang akan menerangi sampai jam sembilan malam. Maklumlah, bahan bakar kalah itu sedang susah-susahnya.
Sekarang asrama-asrama itu menyisahkan bahan cerita menarik. Bahwa ada banyak asrama dibangun dengan segala keterbatasannya. Bahwa ada anak asrama yang membayar biaya asrama dengan beras. Bahwa ada anak asrama yang relah mencari kayu bakar di musim hujan untuk menanak nasi. Bahwa ada rombongan tim sepak bola yang berjalan kaki menuju ketang untuk bertanding. Bahwa Hp Mito lebih menarik daripada android. Atau indahnya berlibur bersama penghuni asrama di pantai Mbolata. Ah masih banyak lagi yang tak mampu diceritakan.
Sekarang semuanya telah lenyap dan menyisahkan beberapa bekas asrama yang masih kokoh berdiri. Mungkin tak lama lagi akan runtuh dimakan usia.
Sekarang kemana perginya mereka?
Apakah Mok sudah tidak lagi istimewa untuk ditinggali?
Atau apakah Smandu sudah hilang daya magisnya?
Atau mungkin zaman sudah terlalu maju. Sepeda motor sangat membantu untuk akses ke sekolah. Asrama tidak dibutuhkan lagi.
Atau mungkin pengelolaan asrama yang sangat merugikan pelajar.
Terakhir, mungkin siswa Smandu tak sebanyak dulu lagi.
Semuanya menjadi refleksi pribadi setiap insan di Mok. Semoga Mok tetap menjadi sentrum pendidikan di Mbengan.
Terlepas dari semuanya itu, ada beberapa hal yang perlu diingat oleh eks anak asrama di Mok:
* Kalau dipipimu ada lengkung pelangi, jangan kau lupakan Wae Nggereng yang membasuhmu.
* Kalau manis senyummu, jangan kau lupakan orang Mok yang mencintaimu.
* Kalau gagah berani dirimu jangan pernah kau lupakan teko Mok yang mengisi perutmu.
Dan masih banyak lagi. Heheheh God Bless You.
Sekian.