Kamis, 01 Desember 2022

Nostalgia Asrama di Mok


  Membahas kampung Mok tidak pernah ada habis-habisnya. Begitu banyak hal menarik nan unik di sana. Mok berstatus kampung tua. Berada di punggung bukit yang menyisahkan banyak keunikan mulai dari suku,bahasa, adat istiadat serta permainan-permainan tradisional. 

  Sejak dahulu, kampung Mok sudah diistimewakan. Mulai dari pemberian dalu yakni dalu Kepo, pembangunan sekolah, gereja dan infrastruktur lainnya.  Kampung Mok begitu istimewa. 
Mok memiliki daya magnet tersendiri untuk dikunjungi. Mok layak disebut kampung pendidikan.  Disana ada TK, SD, SMP dan SMA. Mok juga merupakan pusat pemerintahan desa Mbengan. Puskesmas dengan fasilitas memadai juga dibangun di Mok. Terakhir,  Mok ialah pusat dari paroki besar St. Agustinus.
Kadang orang iseng bertanya dalam hati, daya magis apa yang membuat Mok menjadi pusat segalanya.

   Satu hadiah yang wajib disyukuri oleh masyarakat Mok ialah berdirinya SMA negeri 2 Kota Komba. Lagi-lagi ini merupakan sebuah keistimewaan.  Sebuah kampung diatas gunung. Jauh dari pusat keramaian. Tetapi dihadiahkan sebuah sebuah sekolah yang luar biasa.  SMAN 2 atau Smandu merupakan puncak dari rasa pedulinya pemerintah akan pendidikan di daerah terpencil. 

   Sejak berdirinya di tahun 2010 Smandu mendatangkan banyak orang di Mok. Tentu saja mereka adalah anak muda yang ingin mengenyam pendidikan di Smandu.
Kehadiran Smandu memberi keuntungan besar bagi masyarakat Mok dan sekitarnya. Untuk kaum pelajar, ini adalah anugerah Tuhan agar mereka tidak lagi jauh ke kota untuk bersekolah. Smandu menjadi lapangan kerja baru bagi kaum terdidik di Mok dan sekitarnya. Menjadi tenaga pendidik tentunya. Sedangkan selebihnya, ini merupakan momentum masyarakat sekitar untuk menggerakkan sedikit roda perekonomiannya. Mendirikan kios dan usaha lainnya. Yang paling menjanjikan adalah mendirikan asrama atau penginapan untuk pelajar. 
  Asrama merupakan hal yang lumrah ada di Mok. Ada begitu banyak asrama dibangun untuk menampung pelajar-pelajar dari berbagai daerah disekitar Mok. 
Medio 2010 sampai 2015 merupakan puncak ramainya kampung Mok. Ada begitu banyak asrama berjejer. Mulai dari Tenda Gereng, wae galang, wae rae, Pusat Paroki  dan tempat lain yang luput dari perhatian penulis kalah itu. Munculnya banyak asrama ini merupakan tuntutan dari adanya Smandu. Efek Smandu sedikit menambah gemerincing koin di kantong pemilik asrama kalah itu. Selain daya magis kampung Mok sendiri,  Smandu juga menjadi magnet ajaib yang menarik banyak orang ke Mok. Masyarakat Mok wajib berbangga dengan adanya Smandu. 

  Kalah itu Mok menjadi destinasi yang sangat menarik dikunjungi.  Saban hari kita akan menjumpai para remaja dengan hp Mito, Nokia dan merek-merek lainnya di pinggir jalan atau bangku panjang di depan asrama. Tidak lupa pula ada beberapa remaja sedang menenteng air atau kayu bakar di bahu. 
Pagi hari jalanan dipenuhi siswa dengan body tinggi gagah, juga siswi cantik aduhai dengan make up andalan bedak Viva. 
Pada sore hari, lapangan sepak bola ramai dipenuhi siswa Smandu. Tak heran, prestasi sepak bolanya sangat mentereng. Beberapa kali penulis hadir ketika Smandu Fc bertanding seperti Waelengga, Wano, Mesi dan juga masih banyak lagi atau ketika latihan sore di Ketang dan Waekekik. 

   Kembali ke topik kita yakni asrama-asrama di Mok. Eksistensi asrama ini sangat membantu para siswa yang berasal dari kampung yang notabene jauh dari Smandu. Dengan biaya tiga puluh ribu atau lebih, siswa dengan nyaman tinggal di asrama. 
Lahirnya banyak asrama di Mok tidak terlepas dari banyaknya pelajar yang bersekolah di Smandu. Mereka datang dari berbagai penjuru di kecamatan Kota-komba. 
 
Pengalaman tinggal di asrama merupakan hal yang sangat spesial. "kamu tidak akan pernah tahu licinnya Par Tagi atau derasnya wae Nggereng ketika cari kayu bakar" Ujar PS, alumni Smandu 2014. Selain itu ada momen ketika penghuni asrama harus mandi di sungai. Wae Nggereng, wae Rae dan sungai lainnya akan ramai dipenuhi penghuni asrama di pagi atau sore hari. 
Sebelum masuknya PLN di Mok, asrama-asrama ini menggunakan generator untuk menerangi malam hari. Sehingga ketika jarum jam menunjukkan pukul enam sore, asrama-asrama ini akan diramaikan oleh bunyi generator yang akan menerangi sampai jam sembilan malam. Maklumlah, bahan bakar kalah itu sedang susah-susahnya. 

Sekarang asrama-asrama itu menyisahkan bahan cerita menarik. Bahwa ada banyak asrama dibangun dengan segala keterbatasannya. Bahwa ada anak asrama yang membayar biaya asrama dengan beras. Bahwa ada anak asrama  yang relah mencari kayu bakar di musim hujan untuk menanak nasi. Bahwa ada rombongan tim sepak bola yang berjalan kaki menuju ketang untuk bertanding. Bahwa Hp Mito lebih menarik daripada android. Atau indahnya berlibur bersama penghuni asrama di pantai Mbolata. Ah masih banyak lagi yang tak mampu diceritakan.  

Sekarang semuanya telah lenyap dan menyisahkan beberapa bekas asrama yang masih kokoh berdiri. Mungkin tak lama lagi akan runtuh dimakan usia. 
Sekarang kemana perginya mereka? 
Apakah Mok sudah tidak lagi istimewa untuk ditinggali?
 Atau apakah Smandu sudah hilang daya magisnya? 
Atau mungkin zaman sudah terlalu maju. Sepeda motor sangat membantu untuk akses ke sekolah. Asrama tidak dibutuhkan lagi. 
Atau mungkin pengelolaan asrama yang sangat merugikan pelajar. 
Terakhir, mungkin siswa Smandu tak sebanyak dulu lagi. 
Semuanya menjadi refleksi pribadi setiap insan di Mok. Semoga Mok tetap menjadi sentrum pendidikan di Mbengan.
Terlepas dari semuanya itu, ada beberapa hal yang perlu diingat oleh eks anak asrama di Mok:
* Kalau dipipimu ada lengkung pelangi, jangan kau lupakan Wae Nggereng yang membasuhmu.
* Kalau manis senyummu, jangan kau lupakan orang Mok yang mencintaimu.
* Kalau gagah berani dirimu jangan pernah kau lupakan teko Mok yang mengisi perutmu.

Dan masih banyak lagi. Heheheh God Bless You. 
Sekian. 






Rabu, 05 Oktober 2022

Merdeka dengan Sopi Kobok

Tenda Gereng 17 Agustus 2021, matahari begitu panasnya menusuk kulit. Tidak ada yang spesial disini. Hanya ada kumpulan tiga sampai lima orang di depan rumah bapak Paskalis. Mereka adalah pemuda gagal yang mengambang tanpa kejelasan. Teger membuat bosan saja. Semua orang hanya menunggu jam 15:00 untuk bermain volly di lapangan seberang rumah Bapak Romanus. Teger, atau kubakar saja kalian celetuk putra bapak Andreas. 

Tiba-tiba dari kejauhan seorang laki-laki mengendarai sepeda motor menghampiri kumpulan pemuda tadi. Raut mukanya begitu serius. Ditangan kirinya ada helm seperti kepala kuda. Sedang tangan kanannya merengkuh sebotol bir dengan wangi menusuk jantung.  Tidak salah lagi kalau itu sopi Kobok yang maha keras itu. 
Tanpa basa basi dan aba-aba,putra kedua bapak Paskalis mulai menuangkan isi botol bir itu kedalam sloki kecil yang cantik dan seksi. Dua puluh menit berlalu begitu cepatnya. Botol bir tadi sudah tumbang tanda isinya telah terkuras habis. Nampak putra bapak paskalis dan bapak Andreas mulai menari diiringi musik Jai Bajawa. Sedang putra bapak Boni masih saja berkutat dengan hpnya.  Ada tiga pemuda yang masih berbincang tentang masa depan. Mereka putra bapak Geradus dan putra bapak Pius. 
Peringatan kemerdekaan tahun ini tidak begitu meriah. Kalau tahun lalu ada perlombaan, sekarang ide tersebut seperti tenggelam ditelan bumi. Sekarang kita rayakan kemerdekaan ini dengan meneguk sebotol kobok. 
Sementara pemuda-pemuda tadi asik bercerita dan berjoget, datanglah bapak sipri alias Rema ditemani pemuda yang membawa sebotol kobok tadi. Sekarang di tangan kiri dan kananya masing-masing memegang botol bir. Semuanya kaget bukan kepalang. Siapa sebenarnya pemuda yang gagah berani ini. Tidak ada pemuda sehebat dia di Teger. Tak ada satupun sejak dahulu pemuda Teger yang berani membeli tiga botol kobok tanpa patungan. Oke saya akan ceritakan secara runut. 
Dua puluh tahun yang lalu dia telah ada di bumi Teger yang tercinta ini. Dia lahir sebagai putra sulung. 
Bapak dan mamaknya menginginkan dia kelak menjadi sosok pemberani. Dia bersekolah di sekolah tua, SDK Mok yang tercinta itu. Disana dia terkenal sebagai sosok yang tak pernah kenal takut. Siapapun dia akan lawan. Entah di posisi yang benar atau salah. Dia terkenal keras kepala. Pernah satu kali dia mengejar teman-temannya dengan parang ditangan kanannya. 
Masa SD dan SMP dilaluinya di Mok. Katanya, ini priode yang sangat membosankan sekitar 75 persen dan sisanya sangat menyenangkan. Siapa yang tidak kecewa dengan masa ini. Sepulang sekolah ke kebun. Pikul kemiri atau coklat juga cengkeh. Begitupun waktu libur. Tak ada yang spesial disini. 
Akhirnya, atas persetujuan bapak dan mamaknya. Pemuda tampan nan rupawan idaman perempuan ini melanjutkan pendidikan SMA di kota dingin Bajawa. Sampai disini ada yang mulai menebak siapa pemuda ini?
Di bajawa, dia semakin liar saja. Bajawa membuat dia gila. Dingin yang bajawa berikan untuk dirinya membuat dia semakin keras kepala dan tak pernah kenal takut. Pernah satu kali dia pulang kampung dari Bajawa mengendarai sepeda motor Mio dengan minus rem. Dapat dibayangkan bagaimana dia melalui tikungan tajam bajawa aimere yang terkenal ganas itu. 
Dia bersekolah di SMK Sanjaya. Katanya cewek-cewek disana aduhai sekali. Pantasan pemuda ini betah dan liar disana. 
Berapa bulan yang lalu dia menyelesaikan pendidikannya disana. 
Sekarang pemuda ini telah bekerja di Borong. Kota kabupaten Manggarai Timur. Setiap hari sabtu dia pasti pulang kampung. Kadang kalau bertemu teman-temannya dia tak pernah lupa menenteng sekantong kue kacang untuk mereka. 
Ya, tanpa basa basi lagi. Dia Nandik Fermino. Putra sulung Bapak Adi yang baik hati itu. 
Sekarang kamu tidak perlu penasaran lagi dengan pemuda tajir yang membeli tiga botol Sopi kobok di 17 Agustus kali ini. 
Pukul 15:00, Teger kembali hidup. Semua orang berkumpul di lapangan volly. Pemuda-pemuda tadi dengan sempoyongan ikut menyaksikan pertandingan disana.  Anak bapak Andreas yang terkenal jago itu sudah muntah berkali-kali.  Sedangkan anak bapak Iyan dan putra sulung Bapak lensi yang datang belakangan terus menyanyikan lagu nenggo sepanjang sore itu. 
Ya, Trimaksih Sopi kobok( nandik). Setidaknya sekarang kami tahu merdeka itu seperti apa.

 (Tulisan ini diekstrak kembali dari diary kecil Sobat 21)


Minggu, 04 September 2022

Diary Kecil: Tidur Malam di Tanjung Bendera

Angin sepoi-sepoi menusuk kulit. Langit gelap gulita. Tak ada bulan tak ada bintang. Malming ini terasa hambar. Tiba-tiba muncul notifikasi WA grup " yok, kumpul ke Bos Ridy Jani". Pengirim pesannya tak begitu penting. Intinya, sekarang starter Blade kesayangan  lalu tancap gas. Ke rumah Bos tentunya, hehehe. Siapa tau ada kopi dengan kokis ene di malming ini. 
Teger begitu sepi. Tak ada lagi bunyi musik Gegalino dari Karitas atau barangkali speaker dari om Amor. Teger sepertinya tidur lebih awal kali ini. Billyard yang dulu ramai dikepung pecandunya sekarang diam membisu. Tak ada yg menemani siang atau malam. 
Pukul 21:00, Akhirnya semua berkumpul di rumah Ridy. Syukurlah harapan dan cita-cita terkabul juga. Diatas meja sudah tersedia kopi manis plus kacang garuda. Anak bos memang bukan kaleng-kaleng.
 Btw, ternyata Ridy sedang sakit. Badannya terlihat kurusan. Kemarin sore dia dijemput ayahnya dari sekolahnya, di Mbata yang mahabanyak gadis-gadisnya. 
Ceritanya, sekarang edisi jenguk sahabat. Cepat sembuh kawan. 
Sepanjang malam rumah begitu ramai dipenuhi celotehan teman-teman. Maafkan kami Opa Oma dan Bapa Mama di rumah ini. Mance Kewor yang kekar itu menguasai meja perbincangan. Ceritanya menarik. Katanya dia terkenal di kemah pesta, seterkenal Cristiano Ronaldo di lapangan hijauh. Ah sudahlah membualnya Kewor. Kami tau kau pernah disiksa preman di Peot.
Anak muda suka kebebasan.  Untuk itu,  ide terbaik kali ini adalah kemping di Pantai. Tanjung bendera tepatnya.  Segala macam hal dipersiapkan.  Tenda adalah tanggung jawab Carly Jansen.  Kayu bakar tanggung jawab Kewor.  Makanan ditanggung Renal dan Nandik . Orin dan Rian sebagai tenaga kole kaler. Sedangkan beras ditanggung setiap individu. Setengah kilogram perorang. 
Tepat pukul 15:00, 30 Juli 2021 rombongan sepeda motor beriringan menuju pantai. Ada Kewor bersama Opyan dengan Supra andalannya. Renal dan Nandik, mengendarai Yamaha R-15 yang maha cantik itu. Carly Jansen memboncengi Ando dengan motor smash antiknya. Sedangkan Rian Tasman sebagai otak dari perjalanan ini mengendarai Blade kesayanganya. 

Bermotoran  ke pantai memang terasa menyenangkan. Selama perjalanan, pasti ada ajang balap-balapan. Untuk hal ini, Yamaha milik Renal jagonya. Untuk freestyle di jalanan, tak perlu ragukan  kemampuan Ando dan Mance Kewor. Jangan tanyakan tentang blade miliknya Rian.  Motor itu sangat alim, sealim pemiliknya.
Perhentian pertama adalah di pasar waelengga.  Membeli ikan tentunya. Biar nanti bisa jadi lauk malam hari. "Mengapa tidak memancing saja?" ujar Kewor di senja itu. Pertanyaan itu tak perlu dijawab. "Kita anak gunung, tanpa alat mancing. Kau mau mancing pake gigi" balas Ando diikuti gelak tawa teman-teman. 
Hari sudah semakin sore.  Matahari sudah berada di ujung horizon. Rombongan itu belum juga sampai pantai. Kamu tau kenapa. Itu karena misskomunikasi diantara mereka. Maklum saja, semuanya masih miskin pengalaman soal kemping. 
Kemping dipantai tak semudah yang dibayangkan. Pantai tak selamanya menyediakan tempat yang nyaman untukmu. Mencari tempat yang terbaik untuk membangun kemah adalah hal yang sulit.  Selain harus tak dijangkau air laut saat pasang, kemah juga harus ditempat yang sentral.

Tanjung Bendera.  Sekarang keinginan untuk tidur diatas pasirnya yang gembur tercapai juga. Kemping yang sederhana ini  dimulai. Pertama membangun tenda dan dilanjutkan membakar nasi bambu. Kerja sama tim sangat diperlukan. Ada Kewor yang setia dengan kayu bakarnya. Renal yang meracik bumbu untuk bakar-bakar. Atau Nandik Fermino yang tidak jelas mau buat apa, maklum dia bos dalam perjalanan ini. Juga ada Ando yang memainkan gitar menghibur Jansen yang menggalau di atas pohon. Atau Rian yang setia memanggang nasi bambu. 
Malam berjalan begitu cepat. Mungkin karena semuanya merindukan pagi atau matahari terbit. Ya, pukul 4 pagi semuanya bangun menyaksikan indahnya panorama alam di selatan Manggarai Timur itu. 
Tanjung Bendera, kepingan taman firdaus yang jatuh di selatan Manggarai Timur. Semoga kau tetap perawan. 

Seperti anak gunung lainnya, kalau ke pantai pasti mencoba mencicipi asinya air laut, dengan berenang tentunya.  Tujuh anak kampung ini akhirnya memberanikan diri melawan ombak Tanjung Bendera. 
Pukul 15:00 semuanya sepakat untuk kembali. Satu kejadian yang paling berkesan selama di Tanjung Bendera adalah ketika Jansen menebang sebuah pohon liar di tepi pantai dan kemudian dimarahi orang tua disana untuk tidak sembarangan menebang kayu di pantai. Kejadian ini mengingatkan saya pada Bung Fiersa Besari" jangan ambil apapun kecuali foto, jangan tinggalkan apapun kecuali jejak, jangan bunuh apapun kecuali waktu"
Terimaksih man teman.





Selasa, 30 Agustus 2022

Nera

I.
Kita adalah sepasang rindu.
Meranggas dari ranting-ranting  bambu.
Terbang melayang kemudian jatuh,
seperti alunan lembut sebuah lagu.
Kita adalah  untaian kata-kata yang mencabik gatra. 
Menggelembung dalam habitat waktu.
Semoga merupa Aku, harta dan perawan rupawan.

II.
Adakah sebelum pagi tiba, kau datang dalam rinai-rinai hujan.
Mengetuk pintu dan mendoakan aku untuk menyobek dinding-dinding waktu.
Kemudian ditemani semburat mentari, kau akan merajutnya kembali  menjadi waktu yg berputar dua kali sehari.

III.
Pemandangan terindahku adalah lengkung sendu dan senda di bibirmu.
Warna favoritku adalah rona merah wajahmu.
Sedangkan Pipimu adalah taburan-taburan  rasa favoritku.

IV.
Aku ingin santai di sorot matamu.
Lalu menyulap semua penglihatanmu.
Sebab siapakah dia yang paling nyaman di senja matamu yang ranum itu.
Aku ingin berbaring di kepalamu.
Lalu melahap semua isinya.
Sebab kepalamu itu tempat tidur surgawi .
Pada akhirnya, aku ingin dia yang padamu menjadi aku.
Sebab siapakah kau yang paling aku?
Kalau bukan aku yang paling rindu.

V.
Bolehkah aku menjengukmu dari sejumput doa?
Kau merekah dalam angan penuh asa.
Memahat rindu dalam kalbu.
Mematok lelah yang durjana.
Pernahkah kau menangis dibawah rintik-rintik hujan?
Tangismu tak kalah asinnya dengan air langit.
Air matamu akan bermuara di ujung horizon.
Dimana kau akan mematok pulang sebagai hasil kalkulasi antara jarak dan rasa.

Rumah Favorit

Sebuah ruang penuh kasih.
Tempat dimana asap mengepul, 
senyum mengembang lalu mengambang di kanvas senja.
Rumah ini adalah segelas kopi paling cantik.
Dimana kau dan aku membiak, membaik lalu menghembuskan napas.
Saban sore kita akan menjumpai kasih yang melampaui cakrawala.
 Melihat ibu yang tidak pernah kekurangan iba atau ayah yang tidak pernah kekurangan cinta. 
Rumah itu tempat paling jauh untuk pulang. 
Tempat paling dekat dalam rindu. 
Tempat tidur paling favorit untuk membaringkan kepala. 
Rumah adalah  ramah yg paling murah.
Ia adalah sekumpulan marah yang paling rapuh. 
Pulang dan peluklah jika senja dirumahmu masih penuh tanda tanya.

Jumat, 17 Juni 2022

Watu manuk

Aku tak pernah melupakan saat pertama kali kau masuk dalam kepalaku. 
Rona merah di pipimu meletup-letup diingatanku. 
Wajah polosmu berputar bak ban sepeda motorku. 
Kau terlalu sulit bagiku untuk keluar dari kepalaku. 
Kau menghipnotis segala ragaku. 

Facebook yang dulu hanya mengandalkan mode gratis. Sekarang harus beradaptasi. Kuota harus diisi. Semuanya untukmu kekasih hati. 
Malam yang dulu hanya dipenuhi celotehan teman-teman, sekarang menjadi ladang asmara. Ya, malamku sejenak menjadi perbincangan di layar Android yang tak habis-habisnya. Celotehanmu menjadikan hal kecil menjadi sesuatu yang menarik.
Tugas sekolah yang dulu menghiasi dunia malam, sekarang menjelma puisi dan sajak-sajak senja.
Jatuh cinta harus seperti itu. Logika harus tunduk pada rasa.

Ketahuilah, sebelum mencintaimu tak ada cinta semanis ini dan tak ada rindu sepahit ini. Kata ayahmu Kita adalah dua orang yang terlanjur berkubang dalam zona percintaan. Aku telah menjadi matahari untuk siangmu, jadi jalan untuk kakimu dan menjadi air untuk dahagamu. 
Kau tau, dimana dan kapanpun aku tetap orang yang sama. Mencintaimu dengan sederhana, merindukanmu dengan jujur dan melukaimu dengan tak mungkin. 

Apakah tangis masih menaungi matamu?
Apakah tidur masih menjadi hobbymu?
Apakah aku masih menghiasi memorimu?
Kurang ajarkah aku apabila aku merindukanmu dengan lebih?
Aku harap kau masih baik-baik saja.
Aku harap kau mengerti setiap kode yang kusematkan dichatan kita.
Jangan risau tentang diriku. 
Aku sudah terlalu biasa menggenggam duri-duri mawar. 
Aku sudah terlalu biasa untuk berpura-pura tersenyum. 

Kemarin kau menangis dengan deras. 
Aku tak sampai hati melihatmu. 
Tugasku adalah membahagiakanmu. 
Bukan membuatmu bercucuran air mata. 
Sejenak aku dilematis. Kau benar-benar magnet yang menahanku, walau akhirnya kau kalah oleh realita. 

Jumat 17 Juni, aku sudah berjarak ratusan kilometer darimu. Saat ini cakrawala di tempatku pelan-pelan berjingkrak-jingkrak menuju ujung horizon. Kau tau, ini menambah tebal rinduku. 
Romantisme alam ini sungguh indah. Cakrawala mencium horizon lalu memuncratkan spektrum warna ke penjuru bumi. 
Ya, seperti senja kau tercipta ketika Tuhan sedang bergembira. Dan aku menyukainya. 

Watu manuk 17 Juni 2022
(Teruntuk Carly Jansen; kole kaler alias joak-joak)

Minggu, 29 Mei 2022

Jerman Punya Der Panzer; Mbengan Punya Panser FC

   Der Panzer. Apakah anda mengetahuinya? Penggemar sepak bola tentunya mengenal atau pernah mendengarkannya. Der Panzer merupakan julukan untuk tim nasional sepak bola asal Eropa, Jerman. Julukan der panzer sendiri pertama kali muncul di piala dunia Swiss.  Kalah itu timnas Jerman (Jerman Barat) belum menjadi tim yang difavoritkan juara. Tetapi pada akhirnya Jerman keluar sebagai juara. Sejak saat itu timnas Jerman dijuluki panzer sebagai analogi dari mesin diesel panzer yang lambat panas. Namun saat ini timnas yang mengoleksi 4 trofi piala dunia ini merupakan salah satu tim yang paling difavoritkan untuk menjuarai turnamen piala dunia 2022 di Qatar. 
Cerita tentang keganasan Panzer Jerman menjadi buah bibir di penjuru dunia. Terlebih khusus kampung Kemus. Sebuah kampung imut nan permai di Mbengan, Kota-Komba. Siapa yang tidak menginginkan permainan seperti timnas Jerman. Di menit awal kau boleh mendikte permainan. Tetapi jangan pernah lupa, kita adalah Panzer yang membutuhkan waktu untuk panas. Dalam sekejap kami akan merobek jaring gawangmu. 
   Kampung Kemus merupakan sebuah kampung tua di Mbengan. Wilayahnya sangat nyaman dan asri. Jika mentari terbit di pagi hari, kita akan menjumpai wajah-wajah manis dengan senyum khas golo Nguzul disini. Masyarakatnya asik-asik. Kadang kita akan menjumpai sekelompok pemuda duduk melingkar dengan gelas berputar.
 Kemus masuk dalam wilayah dusun Pandang yang meliputi Kemus, Pandang dan Watu Ker. Sepak bola tak pernah lepas dari keseharian masyarakat disana. Kampung tidak akan pernah sepi.  Sebab di sepanjang jalan, anak-anak selalu memainkan sepak bola. 
   Medio November 2020 sampai Mey 2021 merupakan titik awal dari munculnya semangat sepak bola di kampung kemus. Saat itu klub-klub kecil mulai bermunculan di setiap kampung di Kota-Komba. Hadirnya klub-klub ini merupakan titik bosan dari menguatnya isu covid di Indonesia. Masyarakat ingin santai tetapi menyehatkan. Solusinya sepak bola antar kampung (tarkam). Maka dari itu dibentuklah sebuah tim dengan nama pandang Fc dengan coach muda, om Wempi.Tim ini sangat diperhitungkan, dengan kekuatan lini per lini yang mumpuni.
   Seiring berjalannya waktu pandang fc tetap eksis.  Melakukan pertandingan kandang dan tandang.  Dengan pengalaman yang dimiliki coach Wempi tim ini mampu bermain dengan sangat baik di setiap laga.  Apalagi didukung oleh pemain seperti Deny yang pernah bermain di Kota-komba Jayapura, alfons, Sus, atau Mandyk yang malang melintang di liga tarkam.  Tim ini pun memiliki seorang kiper dengan jam terbang tinggi, Maksen Bungtai. Dengan refleks yang luar biasa, ia mampu mengamankan gawang pandang fc disetiap laganya. 
Kisah indah tim Pandang fc berlangsung hampir 1 tahun lebih. Manajemen yang berubah dan pemain yang datang dan pergi membuat klub ini berbenah. Pandang fc kemudian mengganti namanya menjadi Panser fc. Mengapa Panser?
Tim ini dinamakan panser karena dua hal yakni pertama Panser merupakan singkatan dari Pandang, Kemus dan Watu Ker yang notabene berada dalam wilayah dusun Pandang. Jadi kalau anda mau ke salah satu kampung di Pandang,  sebut saja ke Panser. 
Kedua karena mentalitas. Tetua di dusun Pandang menginginkan permainan seperti der panzer di Jerman. Mental sekuat baja namun hati selembut sutra. 
Akhirnya panser fc mengikuti turnamen pertamanya di Ketang. Dengan kekuatan penuh dan semangat tempur tinggi, panser mampu bermain apik. Saat ini mereka sedang berjuang mendapatkan satu tiket ke 32  besar. Semoga semangat tim panzer yang dikenal dunia merasuk dalam tim kecil ini. Apabila panser fc di laga-laga awal terlihat lemah, janganlah kamu heran. Mesinnya belum stabil dan panas. 
"Jika kamu ingin melihat manuel Neur menari dibawah mistar gawang, saksikan Panser fc di Ketang ".


Lupakan Final Paris Itu: Fokus nonton Teger Cup Saja

   Final liga champion Eropa 2021/2022 telah usai. Real madrid menjadi jawara setelah menundukan Liverpool melalui gol semata wayang Vinicius Junior. Hasil ini menempatkan Real Madrid sebagai raja Eropa dengan koleksi 14 trofi liga champion. Disisi lain, hasil ini membuat Liverpool gagal menambah koleksi trofi liga Champion.
Lalu bagaimana dengan fans dari kedua tim. Hasil ini tentunya membuat fans Real Madrid merasa diatas angin. Mereka menganggap timnya sebagai King Of Europe alias rajanya Eropa. Fans Real Madrid patut berbangga dengan hasil ini karena pada musim ini Madrid mampu mengawinkan trofi liga Spanyol dengan trofi liga Champion. 
Disisi lain fans Liverpool mengalami luka yang mendalam. Dendam mereka belum terbalas sedikit pun. Mereka gagal untuk kedua kalinya melawan Real Madrid di final liga Champion sejak tahun 2018. Hasil ini menambah luka, sebab musim ini Liverpool tidak mampu memenangkan dua trofi bergengsi yakni Primere League dan Champions League. 
   Euforia liga Champion Eropa sampai juga ke pelosok-pelosok daerah. Media sosial menjadi aktor utama yang membuat semua orang merasakan eforia di Paris 2022. Degup jantung yang berdetak cepat, kecewa, raungan emosional dan lain sebagainya juga dirasakan mereka. Terlebih khusus kampung Tenda Gereng yang merupakan salah satu kampung yang berada di wilayah desa Mbengan, Kota-Komba,  Manggarai Timur. Cerita tentang Vinicius si bocah ajaib dari Brazil sampai juga ke telinga mereka. Media sosial memang gila. Masyarakat Tenda Gereng dan sekitarnya juga perlu merasakan langsung euforia turnamen seperti di Paris itu. Maka berdasarkan hasil kesepakatan bersama diadakanlah turnamen Volly putra dan putri di Tenda Gereng.  Tentunya turnamen sepak bola dan bola volly adalah jenis olahraga yang berbeda. " Memang cara memainkannya sangat berbeda, tetapi euforia keduanya sama saja" ungkap Nandik Fermino, salah satu pemain andalan di Tenda Gereng. 
   Minggu 29 Mey 2022 sekitar pukul 11 waktu setempat Tenda Gereng atau disingkat Teger bergetar. Bukan karena angin dan hujan yang datang bersamaan tetapi karena gemuru suara penonton yang memadati lapangan volly di sentral Teger. Turnamen volly untuk memeriahkan hari raya Pentakosta resmi dibuka, kurang lebih 6 jam setelah Marcelo Viera mengangkat trofi si kuping lebar. Turnamen ini sangat bersejarah.  Ini adalah turnamen resmi pertama yang diadakan di Teger. Adapun tim yang mengikuti turnamen ini adalah semua orang di wilayah stasi Mok. "Jadi ini merupakan turnamen untuk mempererat hubungan kita di Mok" ungkap salah satu tetua di Teger. Adapun ketua penyelenggara turnamen ini adalah saudara Yansen, tokoh bertalenta yang dimiliki Teger. 
   Kampung Tenda Gereng terletak diantara jalan Mok-Waelengga. Lokasinya yang sangat strategis memungkinkan turnamen ini tidak akan sepi penonton. Lapangannya pun terletak di samping jalan raya. Sehingga setiap hari selama turnamen ini berlangsung, semua orang bebas menonton.  Berbeda dengan liga champion, turnamen ini tidak memungut karcis atau biaya apapun dari penonton yang hadir. Turnamen ini adalah milik semua orang. " Sama kitan le " celetuk Karitas, pemuda tampan dari Teger. Selain itu, turnamen inu adalah langkah untuk membina bakat- bakat muda di stasi Mok. Sehingga olahraga volly mendarah daging di Teger dan Mok secara keseluruhan. Untuk fans real Madrid, transferlah euforia bahagiamu dan khusus untuk fans Liverpool lupakanlah laga itu,  ayo gemparkan Teger I ini. 
Sekian dan terimakasih.

Jumat, 06 Mei 2022

San Peter: Teger dan Kenangan



"San Peter tak pernah jalan sendiri. Ada yang datang, ada juga yang pergi. Itu adalah siklus yang terus berjalan sejak berdirinya klub kecil ini"

    San Peter. Nama yang sangat indah untuk sebuah klub yang bermain untuk level tarkam. San Peter adalah sebuah klub kecil yang bermarkas di kampung Tenda Gereng, desa Mbengan, Manggarai Timur. Klub ini berdiri sejak 1 April 2021. Klub berjersey kandang Orange hitam dan Jersey tandang biru ini merupakan tim yang sangat diperhitungkan. Klub ini memiliki sejarah yang sangat panjang. Tenda Gereng (Teger) yang notabene penduduknya menyukai olahraga sejak dahulu memiliki tim sepak bola dan volly. Tetapi tim-tim ini tidak teroganisasi dengan baik. Sampai pada akhirnya San Peter terbentuk. 

    Medio Desember 2020 sampai Mey 2021 Mok, Tenda Gereng diguyur hujan deras. Hampir setiap hari langit mengirimkan berliter-liter air ke kampung-kampung. Ditengah badai covid 19 yang menggerogoti bumi Mbengan, begitu banyak pemuda,remaja sampai bocah yang setiap harinya memenuhi lapangan Paroki Mok. Disana adalah tempat pelampiasan untuk segala derita, dan keterkekangan covid 19. Ya, sepak bola adalah solusi untuk membuang segala kepenatan dan beban hidup. Di lapangan semuanya berbaur. Keringat menetes membasahi baju. Bauh ketek adalah hal yang lumrah. Ini adalah awal dari segalanya. 
    Hujan dari bulan Desember itu adalah awal dari munculnya klub-klub kecil di Mok seperti APS, Global, Pandang, dan San Peter yang kita bahas ini. San Peter adalah klub yang berdiri paling akhir yakni di April 2021. Rian Tasman, Safry xaverio dan Nandyk Fermino adalah pencetus terbentuknya San Peter. Ketiga pemuda tampan ini layak diapresiasi. Ide mereka untuk mempersatukan warga Teger dalam satu wadah klub layak diacungi jempol. Dengan didukung oleh tokoh masyarakat dan teman-teman ilmu zae ( grup Facebook ) San Peter pun resmi dibentuk. Mendengar ada klub baru yang dibentuk di Teger, semua orang berpartisipasi untuk membangun klub. Jersey dan bola pun berdatangan mengisi lemari San Peter klub. Sistem klub pun dibentuk berdasarkan musyawarah. Tim sepak bola dibagi menjadi dua yakni senior dan Junior. Sedangkan tim volly dibagi menjadi tim putra dan putri. 
    Tentunya semua orang bertanya apa arti dari San Peter itu. Pendiri klub ini tidak sembarangan memberikan nama. San Peter adalah singkatan dari Saint Peter atau Santu Petrus. Nama Santu Petrus diambil untuk mengingatkan anggota klub pada petrus yang menyangkal Yesus tiga kali. Hal ini dikarenakan untuk mengantisipasi kebiasaan menipu(zae) yang melekat di anggota San Peter. Santu Petrus juga dijadikan sebagai pelindung klub baru ini.
    San Peter terus melebarkan sayapnya dengan menjalani berbagai kunjungan tandang dan kandang.  Tujuannya adalah untuk mengasah kemampuan, mental tim dan juga menjalin persahabatan.  
    Namun seiring berjalannya waktu ada begitu banyak anggota klub yang datang dan juga pergi. Tetapi San Peter tak pernah jalan sendiri. Semangat olahraga telah terpatri di dada orang Teger.  San Peter akan selalu jalan bersama Teger. St. Peter menyertai.  

Tulisan ini adalah serangkaian potret kenangan selama setahun di Teger.
Banyak rindu untuk : lucio,safry,nandik,renal,orin,krisen,aldi,ando,jakers,mando,Johan,ridy,pity,mance kewor,ampek,Junior st Peter.
 @LucioBalakNanga



Selasa, 01 Februari 2022

Nera 01

I.
Sepersekian waktu dalam seminggu adalah usaha-usaha untuk membalut luka dari duri-duri rindu.
Adalah usaha untuk mempersempit rasa yang kian sepat oleh jarak.
Adalah usaha untuk menjalani hukuman atas tuduhan mencintaimu.

II.
Lukisan favoritku ialah lengkung sendu dan senda di bibirmu.
Sedangkan pipiku ialah taburan rasa favoritku.