Awal Agustus 2023, Mbengan begitu ramainya. Minggu kemarin, tiga puluh Juli kampung Nunur diramaikan oleh pesta sambut baru. "Nunur bergetar" demikian status teman saya di Facebook.
Kemudian Minggu depan enam Agustus ada acara sambut baru di Mok. Kita tunggu status apa yang diunggah teman saya di Facebook.
Ketika sedang asyik menggulir beranda Facebook, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk di grup akom(anak kompleks) akan ada turnamen di lapangan kampung Mesi yang diselenggarakan oleh gabungan OMK( orang mudah katolik) Mesi dan ikatan mahasiswa Ranakolong Kupang. Kemudian teman-teman anggota grup kembali berdiskusi mengenai turnamen ini. Salah satu anggota kemudian berceloteh "awo main beka taung, lare main beka taung. Niang ghau Salo Niang ghau". Anggota grup pun spontan kaget dan tertawa terbahak-bahak.
Tetapi kemudian celotehan itu terus mengusik pikiran. Sebagai kaum muda, sedikit emosi terpancing. Kemarin Mahasiswa dan orang muda desa lembur berhasil menyelesaikan turnamen. Kemudian disusul orang muda kelurahan Ronggakoe dan sekarang orang muda desa sebelah akan menyelenggarakan turnamen.
Apakah benar celotehan teman saya tadi? Apakah orang muda Mbengan tidak mampu menyelanggarakan kegiatan serupa? Kalau tidak mampu, apa alasannya?
Pendidikan merupakan komponen vital untuk membangun sebuah kehidupan. Pendidikan memberikan pengalaman dan keterampilan seseorang siswa ataupun dewasa untuk meraih keberhasilan. Melalui pendidikan, seseorang mampu mengetahui berbagai hal tentang dunia.
Dalam konteks masyarakat Mbengan, pendidikan merupakan roda yang terus berputar maju. Pendidikan menjadi hal pokok bagi masyarakat untuk meningkatkan taraf kehidupan. Instansi pendidikan mulai dari TK, SD,SMP, dan SMA telah lama ada di Mbengan. Setiap tahun instansi ini berhasil menamatkan siswa-siswa yang siap untuk menjalankan pendidikan di jenjang selanjutnya seperti dari TK ke SD, SMP ke SMA atau SMA ke universitas.
Rata-rata masyarakat Mbengan era milenial telah menyelesaikan pendidikan duabelas tahunnya mulai dari SD sampai SMA. Selain itu, ada begitu banyak siswa yang melanjutkan pendidikannya ke jenjang universitas dan berhasil menamatkannya. Hemat saya ini merupakan sebuah prestasi untuk masyarakat Mbengan, dimana kaum terdidiknya mulai hadir ditengah masyarakat.
Kembali ke pokok pembahasan awal, desa Mbengan tidak sedikitpun kekurangan kaum muda yang berpendidikan. Lalu mengapa selama ini orang muda tidak pernah membuat kegiatan seperti turnamen atau kegiatan lainnya yang membangun?
Hemat saya, ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi yakni; kaum muda yang kurang terorganisir, masalah ekonomi dan lapangan.
Pertama kurang terorganisir. Orang mudah di Mbengan mengalami satu fase dimana rendahnya pengalaman berorganisasi. Selain faktor susahnya untuk mengembleng kaum muda. Mbengan juga kekurangan tokoh yang menjadi patron kaum muda. Kaum muda mbengan sangat sulit untuk dipersatukan meskipun memiliki latar belakang yang sama dalam budaya dan lain-lain. Salah satu contoh yang paling praktis adalah munculnya tim sepak bola dari setiap kampung yang notabene memecah belah. Ketika turnamen dilaksanakan di kampung desa tentangga, semua dusun di Mbengan membawakan timnya masing-masing. Akibatnya tim tidak mendapatkan apa-apa kecuali kekalahan. Kemudian bermunculan stigma negatif dari tim tetangga yang menganggap remeh tim dari Mbengan. Penulis hendak mengatakan bahwa apa salahnya kita bersatu ditim yang sama dalam naungan nama Mbengan.
Kurang terorganisir ini juga terjadi dalam dunia kampus. Pada tahun 2019 di kupang, penulis tidak menemukan satu pun organisasi yang bernama ikatan mahasiswa Kupang Mbengan. Kalaupun itu ada, tidak pernah diadakan suatu forum untuk berdiskusi. Hal ini tentu perlu dibenahi dan diperbaiki oleh kaum siswa Mbengan. Sehingga ketika pulang, bisa mengakomodir kaum muda di Mbengan.
Kedua, masalah ekonomi. Hal ini tentu tidak bisa dielakan lagi. Mbengan beberapa tahun terakhir mengalami krisis ekonomi. Hasil pertanian sebagai fokus kekuatan ekonomi masyarakat belum mencukupi kebutuhan. Cengkeh sebagai andalan masyarakat belum menghasilkan panen yang mencukupi. Tentu ini sangat berdampak pada semua aspek kehidupan lainnya. Masyarakat akan lebih mementingkan urusan dapur daripada urusan diluar itu seperti mengadakan turnamen.
Ketiga, lapangan. Saat ini di Mbengan memiliki dua lapangan sepak bola yakni di Mok dan di Nunur. Susahnya ijin untuk mengadakan pertandingan di Mok tentu menghalangi impian ini. Selain itu lapangan di Nunur memiliki ukuran kecil. Harapannya semoga lapangan Nunur bisa diadakan turnamen.
Kaum muda merupakan penggerak bangsa. Ada setitik harapan melihat bersatunya kaum muda di Nunur. Saban waktu kerap bersama di lapangan nunur dan tempat lainnya.
Atau juga OMK Mok yang setiap waktu mengadakan kor dimana-mana. Semoga kedepannya bukan di sepak bola dan kor saja. Tetapi semakin merambat ke kegiatan lainnya. Satu hal yang perlu dicatat adalah, untuk membangun kita harus bersatu. Kalau bukan kaum muda, siapa lagi.
Jika kita tak mampu mengadakan turnamen, beralihlah ke kegiatan yang mengedukasi masyarakat.
Tabe.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar