Selasa, 30 Agustus 2022

Nera

I.
Kita adalah sepasang rindu.
Meranggas dari ranting-ranting  bambu.
Terbang melayang kemudian jatuh,
seperti alunan lembut sebuah lagu.
Kita adalah  untaian kata-kata yang mencabik gatra. 
Menggelembung dalam habitat waktu.
Semoga merupa Aku, harta dan perawan rupawan.

II.
Adakah sebelum pagi tiba, kau datang dalam rinai-rinai hujan.
Mengetuk pintu dan mendoakan aku untuk menyobek dinding-dinding waktu.
Kemudian ditemani semburat mentari, kau akan merajutnya kembali  menjadi waktu yg berputar dua kali sehari.

III.
Pemandangan terindahku adalah lengkung sendu dan senda di bibirmu.
Warna favoritku adalah rona merah wajahmu.
Sedangkan Pipimu adalah taburan-taburan  rasa favoritku.

IV.
Aku ingin santai di sorot matamu.
Lalu menyulap semua penglihatanmu.
Sebab siapakah dia yang paling nyaman di senja matamu yang ranum itu.
Aku ingin berbaring di kepalamu.
Lalu melahap semua isinya.
Sebab kepalamu itu tempat tidur surgawi .
Pada akhirnya, aku ingin dia yang padamu menjadi aku.
Sebab siapakah kau yang paling aku?
Kalau bukan aku yang paling rindu.

V.
Bolehkah aku menjengukmu dari sejumput doa?
Kau merekah dalam angan penuh asa.
Memahat rindu dalam kalbu.
Mematok lelah yang durjana.
Pernahkah kau menangis dibawah rintik-rintik hujan?
Tangismu tak kalah asinnya dengan air langit.
Air matamu akan bermuara di ujung horizon.
Dimana kau akan mematok pulang sebagai hasil kalkulasi antara jarak dan rasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar