Jumat, 17 April 2020

Ruteng

Rinduku padamu adalah rindu pada rintik-rintik hujan yang setia memenuhi rongga-rongga tanah, membasahi setiap jengkal garis kehidupan. 
Tanpa hujan kau serasa kota mati,
Tanpa hujan kau seperti anomali.
Setiap tetes yang langit jatuhkan adalah jawaban dari seribu kesal.
Meskipun kehidupan akan tertahan sampai rintiknya hilang.
Rinduku padamu adalah rindu pada air mata kekasih di lampu merah.
Rinduku padamu adalah rindu pada molas-molas nuca lale.

Cuka ra'a ruteng e
Sa tidak tahu banyak tentang kisah di dingin yang kau berikan. 
Kecuali rasa kompiang di toko Tarsan, atau tawa ria di kafe-kafe mungil itu, juga lenggak-lenggok penari congkasae, 

Ruteng e......
Jangan sampai kau terlena.
Jangan sampai hilang perawan .
Jangan sampai ada yang mati dengan tali menari di leher lagi.
Cuka ra'a ruteng e....
Mau simpan dimana lagi rindu ini.
Sekujur tubuh ini penuh luka yang sedikit demi sedikit di balut cerita indah yang aku dengar tentangmu.
Sejatinya aku rindu pada gelora nafas yang kucuri maret silam.
Terakhir e ruteng
Tunggu aku kembali. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar