Jumat, 17 April 2020

Ikhlas atau modus? ( catatan pendek tentang cerpen maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu)

Hamsat Rangkuti seorang sederhana yang menghasilkan sesuatu yang luar biasa dalam cerpen maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu. Cerpen ini sebetulnya menceritakan seorang tokoh aku yang adalah penulis yang bertemu dengan penggemarnya, chen chen. Pertemuan ini sungguh luar biasa. Bagaimana seorang penulis terkenal bertemu dengan penggemarnya dalam membahas sebuah cerpen karangan penggemar itu sendiri. Sesuatu yang jarang terjadi bukan? Itu catatan pertama. Pertemuan ini diakhiri dengan pesan menarik dari tokoh aku, lanjutkan cerpennya. Selanjutnya kita saksikan, tokoh aku dan chenchen menjadi dua orang paling berbahagia. Mengunjungi dan menikmati banyak tempat di Sumatera. 
Melihat judul yang saya pakai dalam catatan kecil ini, apa yang terbersit di pikiran kalian? 
"Tolong ceritakan sebab apa kau ingin kau bunuh diri? ". Kalimat ini diulang dua kali oleh tokoh wartawan dalam cerpen buatan penggemar tokoh aku. Menarik bukan? Ini adalah tawaran yang sangat sederhana dari seorang pria yang nyatanya ingin menyelamatkan wanita yang bunuh diri itu. Tapi apakah ini modus? Nanti kita cek. Kembali ke pertanyan pria tadi. Apakah ini adalah syarat dari ramkuti, bahwa laki-laki selalu ada bagi perempuan. Hal ini tentu bertentangan dengan anggapan kaum perempuan. Semua laki-laki sama-sama modus, tidak setia dan lain-lain. Hemat saya, ramkuti ingin menampilkan ciri lain yang positif dari seorang laki-laki yakni ikhlas. Ikhlas menjadi tempat untuk berbagi cerita. Disini ramkuti ingin menekankan bahwa laki laki adalah bengkel terbaik untuk memperbaiki hati yang patah. Benarkah itu? Teman-teman sendiri bisa menilainya. 
Namun setelah adegan tawar menawar dan curhat itu terjadi, ada satu hal yang menciderai ciri khas seorang laki-laki yang ikhlas seperti yang saya katakan diatas. Seperti apakah itu, yuk cek. 
"Masih adakah bekas darinya dibagian lain ditubuhmu yang harus kuhapus dengan bibirku? ". Ini sebuah cedera bukan? Apakah ini modus tingkat dewa? Seperti mencari kesempatan dalam kesempitan. Sebagian orang akan mengatakan hal itu. Saya yakin begitu. Tapi benarkah begitu. 
Saya sedikit membelah tokoh laki-laki itu. 
Bayangkan keadaan saat itu, menegangkan sekali. Ditengah situasi seperti itu, apakah harus ia menawarkan diri? Saya yakin harus. Tawaran pertama diterima sebagai bukti keberadaan laki-laki dimata perempuan. Tawaran kedua? Saya sangat setuju ini diutarakan oleh tokoh laki-laki. Alasannya. Karena keinginan kuat wanita itu yang mengharuskan bertanya seperti itu. Bukankah perempuan itu tak ingin membawah semua bekas mantannya di kematiannya. Hemat saya ini niat tulus bukan modus. Syukurlah perempuan itu menjawab tidak ada. Kalau jawabannya ya, saya membayangkan bagaimana ramkuti menggambarkan bercinta diatas kapal dengan perempuan tak dikenal. 
Terakhir. 
Setelah membaca cerpen karya ramkuti ini, jiwa menghayalku seakan teransang untuk meningkatkan kemampuan menghayalnya. Apa yang terjadi jika saya yang menjadi laki-laki/wartawan itu. Ceritanya pasti berbeda. 
Kedua, jiwa pembacaku sangat menunggu apa lanjutan dari cerpen penggemar tokoh aku tadi. Menurut saya cerita itu sungguh menarik  untuk dilanjutkan. 
Sekian. 
Terimakasih telah membaca. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar